Pada masanya dulu, kami memang lebih senang bermain gundu. Mandi hujan hingga dihadiahi sebuah jeweran di telinga kiri atau kanan. Kami lebih suka memakan nasi uduk atau lontong sayur ketimbang roti diolesi mentega, atau sereal coklat bercampur susu. Kami tak takut laba-laba, kami kejar-kejaran dengan anjing, kami melempari kucing-kucing, kami memanahi burung-burung untuk kemudian dibawa pulang dan dimasukkan dalam kandang. Lalu kami lepaskan lagi beberapa hari kemudian, kami lalu tahu dia tak bertahan bahagia. Ketahuilah pada waktu itu, kami lebih dulu bermain dengan Bumi jauh sebelum kalian mengenal apa itu BlackBerry.
Kami pun pergi ke luar negeri. Liburan di Belanda, Singapura atau Malaysia. Beberapa bahkan mengenyam pendidikan disana. Tapi kami menyimpan rindu. Rindu terhadap aroma durian yang sulit ditemukan selain di negara kami sendiri. Kami merindui ketoprak yang dijual berkeliling komplek saat sore hari. Kami rindu bubur ayam dengan kerupuk merah-putih yang jadi penghiasnya. Maka melihat kalian memegang teknologi yang lebih dulu kami cecap saat kalian masih menggigit jari, menjadi sebuah lelucon paling menghibur saat ini.
Melihat kalian memuja bintang film berambut pirang bermata biru kemudian menjadi lucu, karena kami telah lebih dulu jatuh cinta pada Leonardo Dicaprio yang ternyata tak lebih tampan dari Roy Marten saat masih mudanya. Bahkan musik dan nada-nada yang dijejali ke telinga kalian adalah yang dulu pernah kami tolak mentah-mentah. Mesin-mesin digital pencetak suara itu membodohi. Bocah ingusan dengan modal wajah tampan dan suara pas-pasan menjadi idola kalian, sementara kami lebih memuja Dolores O’Riordian.
Lirik-lirik yang mengisi kekosongan kami adalah cerita tentang hidup dan cinta yang sulit dimengerti. Bukan tentang sesuatu yang seksi atau pengobjekan jenis kelamin yang mendiskreditkan kaum perempuan pada kasus kebanyakan. Kami lebih banyak memahami arti distorsi dan pekikan raung gitar yang gahar, atau sekedar nyanyian pelan yang menenangkan. Bukan dentuman bass yang membuat jantung bergetar hebat dan kepala menjadi pusing bila kebanyakan.
Kami adalah generasi yang sebagian kaumnya menjadi pengecut dengan berlari pada obat-obatan. Setidaknya kami bukan orang bodoh yang menjadilkan bahan kimia sebagai salah satu alternatif untuk bersenang-senang. Kami takut, kami belajar, kami berusaha menjadi berani. Kami melangkah, maju dan bangga dengan dagu terangkat. Bukan menjilati kaki-kaki teman sebaya yang lebih tinggi dalam hal materi, hanya demi sebuah kata, eksistensi. Bukan tak punya pula kami idola dalam negeri, para lelaki atau perempuan yang mengikuti kompetisi di majalah-majalah pun pernah kami koleksi gambar-gambarnya. Setidaknya mereka bukanlah bagian dari golongan peranakan campuran dengan tampang kebule-bulean. Mereka lebih dari sekedar wajah. Dan melihat kalian yang bahkan tak tahu betapa menyenangkannya bermain lompat tali, yang tak tahu bagaimana rasanya menginjak tahi, yang masih buta sama sekali tentang seperti apa rasanya terbakar Matahari, adalah cobaan terberat bagi kami untuk menahan diri agar tak bersikap menghakimi.
Bagaimanapun kalian hanya bentukan zaman, sama seperti kami. Kami adalah mereka yang besar di era 90-an, yang sempat mengenyam hidup tanpa terlalu banyak campur tangan orang-orang pintar yang senang membodohi. Sini kuberitahu satu rahasia yang tak pernah kalian tahu sebelumnya.. Apa yang kalian nikmati saat ini, dikontrol oleh kami. Maaf menjadi pelit karena kami akan melestarikan budaya generasi kami sendiri. Kalian adalah sebentuk percobaan budaya zaman yang dikendalikan oleh orang-orang pintar yang tak ingin berbagi ilmu lebih jauh. Sampai kalian akhirnya menjadi seolah paling tahu. Sampai kalian seolah menjadi paling pintar dan nomer satu.
ihatlah celana ketat yang sekarang mulai sering kalian kenakan, lihatlah kemeja-kemeja flanel yang kalian pamerkan, atau gaun-gaun manis yang sekarang kalian agung-agungkan. Telaah lebih jauh, kami sudah selesai menikmati semua itu. Bukankah, dinosaurus pun menjadi legenda karena telah lebih dulu punah? Maka biar kami melestarikan segala budaya dan kenangan dalam ingatan. Sampai kalian nanti sadar, tak ada sesuatu apapun yang bisa dibanggakan dari era generasi instan sesudah kami, angkatan 90-an.
Dan kalian akan mengemis untuk dibagi cerita, tentang pohon yang masih berwarna hijau dengan dahan-dahan kokoh, tentang kunang-kunang di atas pematang sawah saat malam, tentang suara jangkrik di bawah semak-semak halaman depan, tentang kodok yang selalu bernyanyi serak saat hujan, tentang jaket kulit dan celana ketat yang sepaket dengan sepatu boots andalan, tentang segala hal yang kalian pikir baru kalian temukan, tapi ternyata sudah jauh kami tinggalkan.
(dee sabrina)
Belajar dari pagi ini
Bahwa, tidak semuanya harus ditanggapi.
Bahwa, harus bisa menguasai diri.
Bahwa, umur banyak tidak menandakan kedewasaan.
Bahwa, dalam hidup ini ada beberapa hal yang tidak bisa dibicarakan baik-baik.
Bahwa, cerita itu lebih baik disimpan dalam hati. Karena sebenarnya tidak ada yang betul-betul peduli.
Bahwa, ketika engkau mati-pun, engkau akan sendiri, diadili-pun sendiri.
Bahwa, diam adalah salah satu cara mengalah.. untuk menang.
Berawal dari pagi.
Belajar dari pagi (ini).
Oasis - don’t look back in anger.